Diplomasi
Fashion
Setelah perkembangan zaman yang
pesat dalam dunia internasional maka banyak cara yang dilakukan oleh aktor
negara dalam berdiplomasi untuk
menyampaikan pesan dengan berbagai cara. Sebagai actor negara tentunya ada
tuntutan untuk berbusana rapi sebagaimana perwakilan sebuah negara yang identik
rapi, berkharisma dan berwibawa. Namun
bagaimana bila gaya para diplomat atau actor negara disebut diplomasi
fashion seperti yang dilakukan oleh aktor negara seperti Sri Mulyani (menteri
keuaangan RI 2005) dan Mari Pangestu (menteri perdagangan), walaupun tidak memberikan dampak hebat seprti yang ditimbulkan oleh fashion
yang dikenakan oleh para aktor Hollywood, diplomasi fashion oleh aktor negara
semakin memperkuat citra pemimpin, dan citra negara. Bahkan dalam kasus isteri
presiden AS Barack Obama, Michelle Obama, diplomasi fashion menjadi ikon
fashion baru yang cukup banyak ditiru oleh para wanita sejagad. Secara tidak
langsung, diplomasi fashion pun beriringan dengan diplomasi ekonomi.
Pengertian arti
kata “fashion” memiliki arti yang berbeda dengan kata “busana”,
karena Fashion tidak hanya berbicara tentang busana
tapi juga tentang asesoris (seperti giwang yang dikenakan oleh Sri Mulyani),
sepatu, rambut, bahkan telepon genggam. Kamus encarta mengategorikan ’fashion’
sebagai pakaian, rambut, penampilan pribadi seseorang secara umum, termasuk
tingkah lakunya. Dengan demikian, fashion disebut sebagai ekspresi diri kita
dan kepribadian kita. Kita dapat menggunakan fashion untuk memberi informasi
apakah kita seorang yang profesional, pemberontak, atau justru konservatif. Untuk alasan
itulah maka muncul istilah baru dalam dunia diplomatik yang disebut diplomasi
fashion yang tidak dapat diterjemahkan sebagai diplomasi busana. Diplomasi
fashion berbicara tentang bagaimana gaya fashion seseorang atau sekelompok
orang dapat menyampaikan pesan tentang karakternya bahkan negaranya. Contoh
sederhananya adalah sebuah kota kecil di Jepang yang penduduknya gemar
mengenakan pakaian dan gaya rambut yang cukup heboh ala anime yang kemudian
mendunia dan kita kenal dengan model ’harajuku’. Ini menjadi simbol penduduk
Jepang yang kreatif, ’nakal’, dan gemar bereksperimen dengan beragam gaya baru.
Busana-busana yang
dikenakan oleh Michelle Obama berhasil mematahkan berbagai aturan berbusana
dalam protokoler resmi gedung putih. Dalam inagurasi suaminya sebagai presiden
AS, Michelle Obama mengenakan gaun merah manis rancangan Jason Wu yang jauh
dari kesan konservatif. Banyak yang menyimbolkan hal ini sebagai perubahan sikap AS yang makin fleksibel dalam menjawab berbagai tantangan. Sebagai Ibu negara, Michelle Obama tidak hanya menaruh perhatian
pada sisi keanggunan dirinya dalam balutan gaun-gaun berkelas rancangan para
desainer terkemuka. Perempuan berkulit hitam ini rupanya paham benar tentang
posisinya sebagai seorang pendamping presiden negara adidaya, Amerika, karena
itu Michelle juga punya kemampuan diplomasi yang sangat baik sebagai seorang
wanita.
Michelle selalu
paham bagaimana cara memilih busana agar selalu sesuai dengan budaya setempat
namun tetap terlihat fashionable dan lebih penting nyaman untuk
dikenakan dalam iklim apapun. Misalnya saat melakukan kunjungan ke
negara-negara asia tenggara seperti India dan Indonesia. Saat berkunjung ke
Indonesia pada 2010, ketika mendarat di Bandara Halim Perdanakusumah Michelle
mengenakan warna cokelat tua. Istri Presiden Amerika Serikat Barack Obama juga mengenakan kerudung saat
bertandang ke Masjid Istiqlal. Dia memadukan setelan pantsuit berwarna (mirip
hijau limau) rancangan Stephen Burrows dengan kerudung. Pakaian yang dikenakan
Michelle sebagai ibu negara ditafsirkan sebagai bentuk diplomasi, toleransi
bagi negara yang dikunjunginya. Saat mengunjungi India Michelle memakai saree,
jenis pakaian yang sering digunakan wanita di India .Busana dan
asesorisnya telah menjadi salah satu cara Michelle berdiplomasi. Semua busana
Michelle dalam kunjungannya ke asia dipilih dengan hati-hati untuk menunjang
diplomasi fashion dan memikat negara yang dikunjunginya. Karena perannya yang
krusial, AS memiliki tim pengarah gaya dan artistik khusus yang memiliki
kewenangan dan tanggung jawab penuh seperti staf khusus inti.
Mari Pangestu
mengatakan bahwa salah satu tujuan diplomasi fashion yakni; sebagai sarana menjelaskan produk domestik
(diplomasi ekonomi). Dalam kasus Michelle Obama, diplomasi fashion menyiratkan
fleksibilitas pemerintahan baru AS dan tanpa disadari juga menjadi sarana
diplomasi ekonomi karena gaya fashion yang dikenakannya ternyata menjadi ikon
dunia. Dalam kasus Sarah Palin, diplomasi fashion yang dilakukannya menuai
kontroversi karena ia dituding memberi pesan menghambur-hamburkan uang pada
saat AS dilanda krisis. Diplomasi
fashion menjadi salah satu identitas
yang mudah dinilai dari pribadi seseorang adalah busana yang dipakai. Hal itu
juga yang menjadi penilaian utama bagi seorang ibu negara AS. Michelle juga
begitu familier memilih gaun putih berbahu satu rancangan desainer Jason Wu dan
menjadi populer di AS. Bahkan, Michelle tidak takut menentang tradisi Gedung
Putih yang ketika itu memakai gaun hitam tanpa lengan dalam sesi pemotretannya.
Saat ini pesona
Michelle Obama yang dilihat sebagai pencitraan,
ibu negara Amerika Serikat (AS), dikagumi banyak kaum Hawa dan dinilai sebagai
ikon mode karena berani bereksperimen dalam mengenakan gaun. Tidak seperti
layaknya kebanyakan ibu negara yang lebih berhati-hati dan terkesan
konservatif. Michelle
Obama yang sering tertangkap kamera mengenakan busana yang sama berulang kali
juga menyampaikan sebuah pesan. Susan Swimmer, penulis buku Michelle Obama: First Lady of Fashion and Style
dalam wawancaranya dengan wartawan senior TIME, Andrea
Sachs (16 Juli 2009) mengatakan bahwa Michelle Obama adalah first lady pertama yang diingatnya
mengenakan busana yang sama berulang kali, sesuatu yang jarang dilakukan oleh first lady sebelumnya. “Ini adalah
sesuatu yang sangat baik dilakukan di tengah resesi yang melanda AS dan dunia”.
Namun banyak juga yang member kritik pada busana-busana yang dikenakan Michelle
Obama karena merk-merknya yang high-end atau
mahal seperti Rodarte, Jason Wu, Sophie Theallet, Narciso
Rodriguez, Thakoon, Isabel Toledo dan Rick
Owens.
Madeleine Albright, dalam bukunya
yang berjudul Read My Pins: Stories from a Diplomat’s Jewel Box,
Albright menjelaskan makna pin-pin yang sering dikenakan pada busananya.
Albright mengatakan bahwa pin-pin di bajunya menyampaikan ‘pesan cerdas’ bagi
para pemimpin dunia. Jika ia ingin menyampaikan pesan tegas dengan sedikit
sindiran, ia akan mengenakan pin serangga hitam-kuning (wasp). Jika ia
ingin mendorong pembicaraan damai, ia akan mengenakan pin kura-kura. Ia
mengenakan pin 3 buah monyet untuk menyampaikan pesan ”hear no evil, see no
evil, speak no evil” pada Rusia saat bergolaknya kerusuhan di Chechnya.
Pengakuan
Madeleine Albright menjadi bukti bahwa fashion diplomasi sudah menjadi
perhatian para aktor negara jauh sebelum era milenium dimulai. Gaya busana dan
potongan rambut mendiang Jacqueline Kennedy, mantan first lady AS dengan gaun
sederhana, cantik dan elegan sangat dikenang hingga saat ini. Putri Diana pun
turut menyemarakkan mode serta model rambut yang menjadi ikon global. Hamish
Bowles, editor majalah Vogue mengatakan
bahwa busana yang terlihat dramatis di koran dan foto-foto seperti Jacqueline
Kennedy dapat meningkatkan citra para politisi. Pilihan
busana Michelle bukan hanya menjadi sarana diplomasi dan penguatan identitas
namun juga memberikan keuntungan ekonomi yang tidak sedikit. Pilihan pakaian
Michelle telah meningkatkan dunia ritel hingga miliaran dolar. Sebuah studi
yang dilakukan Harvard Business Review selama kurun waktu 2008–2009 misalnya,
Michelle memberikan kontribusi untuk industri mode sebesar USD2,7 miliar dalam
189 kali penampilannya di depan publik. Rata-rata dalam satu kali penampilan,
Michelle memberi kontribusi sebesar USD14 juta. Label busana yang dikenakan
Michelle selama kurun waktu satu tahun itu rata-rata mendapat peningkatan penjualan
sebesar 16,3%. Gaya berpakaian
Michelle adalah cara untuk mengekspresikan diri. Dia sadar bahwa orang akan
mudah mengkritik, termasuk dalam gaya berpakaian. Namun, Michelle yakin sudah
merasa nyaman dengan pilihannya. Gaya diplomasi fashion yang nyaman serta
santai dalam kesederhanaan dari ciri khas busana Michelle Obama ini nyatanya
selalu berhasil menarik simpati public dan memiliki konsekuensi.
Referensi
Liputan 6,
“Diplomasi Busana ala Michelle Obama” diposting
pada Nov 11, 2010 at 13:30 WIB
Tidak ada komentar:
Posting Komentar