Kamis, 22 Oktober 2015

~International Relation Department



Diplomasi Fashion
      Setelah perkembangan zaman yang pesat dalam dunia internasional maka banyak cara yang dilakukan oleh aktor negara  dalam berdiplomasi untuk menyampaikan pesan dengan berbagai cara. Sebagai actor negara tentunya ada tuntutan untuk berbusana rapi sebagaimana perwakilan sebuah negara yang identik rapi, berkharisma dan berwibawa. Namun  bagaimana bila gaya para diplomat atau actor negara disebut diplomasi fashion seperti yang dilakukan oleh aktor negara seperti Sri Mulyani (menteri keuaangan RI 2005) dan Mari Pangestu (menteri perdagangan), walaupun tidak  memberikan dampak  hebat seprti yang ditimbulkan oleh fashion yang dikenakan oleh para aktor Hollywood, diplomasi fashion oleh aktor negara semakin memperkuat citra pemimpin, dan citra negara. Bahkan dalam kasus isteri presiden AS Barack Obama, Michelle Obama, diplomasi fashion menjadi ikon fashion baru yang cukup banyak ditiru oleh para wanita sejagad. Secara tidak langsung, diplomasi fashion pun beriringan dengan diplomasi ekonomi.
     
     Pengertian arti kata  “fashion” memiliki arti yang berbeda dengan kata “busana”, karena   Fashion tidak hanya berbicara tentang busana tapi juga tentang asesoris (seperti giwang yang dikenakan oleh Sri Mulyani), sepatu, rambut, bahkan telepon genggam. Kamus encarta mengategorikan ’fashion’ sebagai pakaian, rambut, penampilan pribadi seseorang secara umum, termasuk tingkah lakunya. Dengan demikian, fashion disebut sebagai ekspresi diri kita dan kepribadian kita. Kita dapat menggunakan fashion untuk memberi informasi apakah kita seorang yang profesional, pemberontak, atau justru konservatif. Untuk alasan itulah maka muncul istilah baru dalam dunia diplomatik yang disebut diplomasi fashion yang tidak dapat diterjemahkan sebagai diplomasi busana. Diplomasi fashion berbicara tentang bagaimana gaya fashion seseorang atau sekelompok orang dapat menyampaikan pesan tentang karakternya bahkan negaranya. Contoh sederhananya adalah sebuah kota kecil di Jepang yang penduduknya gemar mengenakan pakaian dan gaya rambut yang cukup heboh ala anime yang kemudian mendunia dan kita kenal dengan model ’harajuku’. Ini menjadi simbol penduduk Jepang yang kreatif, ’nakal’, dan gemar bereksperimen dengan beragam gaya baru. 

     Busana-busana yang dikenakan oleh Michelle Obama berhasil mematahkan berbagai aturan berbusana dalam protokoler resmi gedung putih. Dalam inagurasi suaminya sebagai presiden AS, Michelle Obama mengenakan gaun merah manis rancangan Jason Wu yang jauh dari kesan konservatif. Banyak yang menyimbolkan hal ini sebagai perubahan sikap AS yang makin fleksibel dalam menjawab berbagai tantangan. Sebagai Ibu negara,  Michelle Obama tidak hanya menaruh perhatian pada sisi keanggunan dirinya dalam balutan gaun-gaun berkelas rancangan para desainer terkemuka. Perempuan berkulit hitam ini rupanya paham benar tentang posisinya sebagai seorang pendamping presiden negara adidaya, Amerika, karena itu Michelle juga punya kemampuan diplomasi yang sangat baik sebagai seorang wanita. 

     Michelle selalu paham bagaimana cara memilih busana agar selalu sesuai dengan budaya setempat namun tetap terlihat fashionable dan lebih penting nyaman untuk dikenakan dalam iklim apapun. Misalnya saat melakukan kunjungan ke negara-negara asia tenggara seperti India dan Indonesia. Saat berkunjung ke Indonesia pada 2010, ketika mendarat di Bandara Halim Perdanakusumah Michelle mengenakan warna cokelat tua. Istri Presiden Amerika Serikat Barack  Obama juga mengenakan kerudung saat bertandang ke Masjid Istiqlal. Dia memadukan setelan pantsuit berwarna (mirip hijau limau) rancangan Stephen Burrows dengan kerudung. Pakaian yang dikenakan Michelle sebagai ibu negara ditafsirkan sebagai bentuk diplomasi, toleransi bagi negara yang dikunjunginya. Saat mengunjungi India Michelle memakai saree, jenis pakaian yang sering digunakan wanita di India .Busana dan asesorisnya telah menjadi salah satu cara Michelle berdiplomasi. Semua busana Michelle dalam kunjungannya ke asia dipilih dengan hati-hati untuk menunjang diplomasi fashion dan memikat negara yang dikunjunginya. Karena perannya yang krusial, AS memiliki tim pengarah gaya dan artistik khusus yang memiliki kewenangan dan tanggung jawab penuh seperti staf khusus inti.       
     Mari Pangestu mengatakan bahwa salah satu tujuan diplomasi fashion yakni; sebagai sarana menjelaskan produk domestik (diplomasi ekonomi). Dalam kasus Michelle Obama, diplomasi fashion menyiratkan fleksibilitas pemerintahan baru AS dan tanpa disadari juga menjadi sarana diplomasi ekonomi karena gaya fashion yang dikenakannya ternyata menjadi ikon dunia. Dalam kasus Sarah Palin, diplomasi fashion yang dilakukannya menuai kontroversi karena ia dituding memberi pesan menghambur-hamburkan uang pada saat AS dilanda krisis. Diplomasi fashion menjadi salah satu identitas yang mudah dinilai dari pribadi seseorang adalah busana yang dipakai. Hal itu juga yang menjadi penilaian utama bagi seorang ibu negara AS. Michelle juga begitu familier memilih gaun putih berbahu satu rancangan desainer Jason Wu dan menjadi populer di AS. Bahkan, Michelle tidak takut menentang tradisi Gedung Putih yang ketika itu memakai gaun hitam tanpa lengan dalam sesi pemotretannya. 

     Saat ini pesona Michelle Obama yang dilihat sebagai pencitraan, ibu negara Amerika Serikat (AS), dikagumi banyak kaum Hawa dan dinilai sebagai ikon mode karena berani bereksperimen dalam mengenakan gaun. Tidak seperti layaknya kebanyakan ibu negara yang lebih berhati-hati dan terkesan konservatif. Michelle Obama yang sering tertangkap kamera mengenakan busana yang sama berulang kali juga menyampaikan sebuah pesan. Susan Swimmer, penulis buku Michelle Obama: First Lady of Fashion and Style dalam wawancaranya dengan wartawan senior TIME, Andrea Sachs (16 Juli 2009) mengatakan bahwa Michelle Obama adalah first lady pertama yang diingatnya mengenakan busana yang sama berulang kali, sesuatu yang jarang dilakukan oleh first lady sebelumnya. “Ini adalah sesuatu yang sangat baik dilakukan di tengah resesi yang melanda AS dan dunia”. Namun banyak juga yang member kritik pada busana-busana yang dikenakan Michelle Obama karena merk-merknya yang high-end atau mahal seperti Rodarte, Jason Wu, Sophie Theallet, Narciso Rodriguez, Thakoon, Isabel Toledo dan Rick Owens. 

        Madeleine Albright, dalam bukunya yang berjudul Read My Pins: Stories from a Diplomat’s Jewel Box, Albright menjelaskan makna pin-pin yang sering dikenakan pada busananya. Albright mengatakan bahwa pin-pin di bajunya menyampaikan ‘pesan cerdas’ bagi para pemimpin dunia. Jika ia ingin menyampaikan pesan tegas dengan sedikit sindiran, ia akan mengenakan pin serangga hitam-kuning (wasp). Jika ia ingin mendorong pembicaraan damai, ia akan mengenakan pin kura-kura. Ia mengenakan pin 3 buah monyet untuk menyampaikan pesan ”hear no evil, see no evil, speak no evil” pada Rusia saat bergolaknya kerusuhan di Chechnya. 

    Pengakuan Madeleine Albright menjadi bukti bahwa fashion diplomasi sudah menjadi perhatian para aktor negara jauh sebelum era milenium dimulai. Gaya busana dan potongan rambut mendiang Jacqueline Kennedy, mantan first lady AS dengan gaun sederhana, cantik dan elegan sangat dikenang hingga saat ini. Putri Diana pun turut menyemarakkan mode serta model rambut yang menjadi ikon global. Hamish Bowles, editor majalah Vogue mengatakan bahwa busana yang terlihat dramatis di koran dan foto-foto seperti Jacqueline Kennedy dapat meningkatkan citra para politisi. Pilihan busana Michelle bukan hanya menjadi sarana diplomasi dan penguatan identitas namun juga memberikan keuntungan ekonomi yang tidak sedikit. Pilihan pakaian Michelle telah meningkatkan dunia ritel hingga miliaran dolar. Sebuah studi yang dilakukan Harvard Business Review selama kurun waktu 2008–2009 misalnya, Michelle memberikan kontribusi untuk industri mode sebesar USD2,7 miliar dalam 189 kali penampilannya di depan publik. Rata-rata dalam satu kali penampilan, Michelle memberi kontribusi sebesar USD14 juta. Label busana yang dikenakan Michelle selama kurun waktu satu tahun itu rata-rata mendapat peningkatan penjualan sebesar 16,3%. Gaya berpakaian Michelle adalah cara untuk mengekspresikan diri. Dia sadar bahwa orang akan mudah mengkritik, termasuk dalam gaya berpakaian. Namun, Michelle yakin sudah merasa nyaman dengan pilihannya. Gaya diplomasi fashion yang nyaman serta santai dalam kesederhanaan dari ciri khas busana Michelle Obama ini nyatanya selalu berhasil menarik simpati public dan memiliki konsekuensi. 

 



Referensi
Cathy Horyn, New York Times – 24 Desember 2009, Posted by Sylvietanaga on January 4, 2010 
Liputan 6, “Diplomasi Busana ala Michelle Obama” diposting  pada  Nov 11, 2010 at 13:30 WIB




Tidak ada komentar:

Posting Komentar