Jumat, 11 Desember 2015

Metode Penelitian Sosial

         Sumber Data

     Matakuliah Metode penelitian sosial merupakan salah satu matakuliah yang paling membosankan, hampir setiap kelas matakuliah ini berasa masuk telinga kanan lalu keluar telinga kiri atau bisa jadi sama sekali tidak masuk ke telinga. Namun seiring berjalannya waktu di akhir tahun, beberapa tugas atau penelitian sangat mustahil dikerjakan tanpa menggunakan metode penelitian dan mengharuskan saya membaca buku untuk menggali informasi bagaimana cara menulis penelitian yang baik. Puncaknya adalah saat ini, ketika saya bergelut dengan tugas akhir alias skripsi, ouuh God wish me luck, but.. saya akan membagi pengetahuan saya seputar metode penelitian sosial.
     Mengapa mempelajari metode penelitian? perlu kita ketahui bahwa para pengambil keputusan sangat menggantungkan diri pada informasi sebagai bagian kerjanya yang rutin memerlukan sejumlah informasi yang lebih banyak, akurat, dan andal yang akan digunakan sebagai dasar untuk pengambilan keputusan, sementara itu, informasi yang lebih banyak, lebih akurat, dan lebih andal didapat dengan menggunakan metode penelitian. Neuman berpendapat "The findings from research yield better informed, less biased decision than the guessing, hunches, intuition, and personal experience that were previouslyused".
     Ada beberapa keuntungan mempelajari dan memiliki keterampilan dibidang penelitian sosial. Jika kita memcari informasi yang dibutuhkan untuk membuat keputusan untuk membuat keputusan, tentunya kita harus memiliki pengetahuan dan keterampilan dibidang metode penelitian. Karena jika kita hanya memiliki keterampilan penelitian yang terbatas kita tidak akan bisa menddapat informasi yang dapat diandalkan. Lebih baik mengerjakan sendiri daripada kita harus meminta orang lain dan menilai apakah yang dilakukan orang lain dapat ddipertanggung jawabkan menurut kaidah dan prinsip penelitian. Makin luas pemahaman seseorang terhadap proses-proses metode ilmiah maka akan semakin luas penguasaannya terhadap metode penelitian dan akan semakin tinggi pula keterampilannya dalam mengembangkan rencana penelitian ilmiah.
     Sumber Primer
     Sumber data merupakan salah satu bagian yang paling penting sebagai cara pengumpulan data yang dikumpulkan dari berbagai sumber. Data dapat dikumpulkan dari latar data (data setting) yang berbeda. Latar data yang dimaksud ialah latar natural (natural setting) di mana fenomena atau peristiwa secara normal terjadi yang disebut noncontrived settings; dan latar artifisial (artificial settings), baik di laboratorium, dalam rumah responden, di jalan, atau di mall yang disebut contrived settings. Dalam hal ini kita mengenal 2 sumber data; sumber data primer dan sumber data sekunder.
     Sumber data primer: Suatu objek atau dokumen original-material mentah dari pelaku yang disebut "first hand information" dan data yang dikumpulkan dari situasi aktual ketika peristiwa terjadi. Objek yang dijadikan sumber data primer ini bisa individu, kelompok fokus, dan satu kelompok responden secara khusus. Data atau sumber primer antara lain meliputi dokumen historis dan legal, hasil dari suatu eksperimen, data statistik, lembaran-lembaran penulisan kreatif, dan objek-objek seni. Dalam ilmu-ilmu alam dan sosial, hasil suatu eksperimen atau studi yang secara khas ditemukan dalam artikel-artikel, karangan-karangan ilmiah yang disampaikan dalam konferensi, dan artikel-artikel atau karangan-karangan yang disajikan  hasil original dianggap sebagai sumber primer. 
     Sumber Sekunder
      Data sekunder merupakan data yang dikumpulkan dari tangan kedua atau dari sumber-sumber lain yang telah tersedia sebelum penelitian dilakukan. Data yang dikumpulkan melalui sumber-sumber lain yang tersedia dinamakan data sekunder yang meliputi komentar, interpretasi atau pembahasan tentang materi original dan  disebut juga sebagai "second hand information". Bahan-bahan sumber ini dapat berupa artikel-artikel dalam surat kabar atau majalah populer, buku atau telaah gambar hidup, atau artikel-artikel yang ditemukan dalam jurnal-jurnal ilmiah yang mengevaluasi atau mengkritisi sesuatu penelitian original yang lain. Buletin statistik, laporan-laporan, atau arsip organisasi, publikasi pemerintah, informasi yang dipublikasikan atau tidak dipublikasikan dan tersedia dari dalam maupun luar organisasi, analisis-analisis yang dibuat oleh para ahli, hasil survei terdahulu yang dipublikasikan atau tidak dipublikasikan, data bases yang ada dari penelitian terdahulu, catatan-catatan publik mengenai peristiwa-peristiwa resmi, dan catatan-catatan perpustakaan juga merupakan sumber data sekunder.

 Referensi:
DR. Ulber silalahi, MA. Metode penelitian sosial,Bandung: PT Refika aditama, 2009.

Kamis, 10 Desember 2015

Diplomasi kebudayaan

Diplomasi Kebudayaan

    Secara konvensional, pengertian diplomasi adalah sebagai usaha suatu negara-bangsa untuk memperjuangkan kepentingan nasionalnya di kalangan masyarakat internasional. Dalam hal ini diplomasi diartikan tidak sekedar sebagai perundingan, melainkan semua upaya hubungan luar negeri.
     Kebudayaan secara makro atau dalam pngertian umum berarti segala hasil upaya budi daya manusia terhadap lingkungan. Ada juga yang secara makro mengartikan kebudayaan sebagai keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusiadalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar. Jika pengertian makro dari kebudayaan ini harus dikaitkan dengan diplomasi, maka diplomasi kebudayaan sesungguhnya adalah merupakan satu-satunya jenis diplomasi yang dimiliki manusia. Diplomasi kebudayaan mikro, yakni yang biasanya termanifestasikan dalam pendidikan, kesenian, ilmu pengetahuan, dan olahraga. Lebih mikro lagi, dan ini yang justru lebih sering dianggap sebagai 'konvensi' adalah kebudayaan yang menitikberatkan pada pemanfaatan 'kesenian'.
   Dengan demikian diplomasi kebudayaan dapat diartikan sebagai usaha suatu negara untuk memperjuangkan kepentingan nasionalnya melalui dimensi kebudayaan, baik secara mikro seperti pendidikan, ilmu pengetahuan, olahraga, dan kesenian ataupun secara makro sesuai dengan ciri-ciri khas yang utama, misalnya propaganda dan lain-lain, yang dalam pengertian konvensionalnya bukan politik, ekonomi ataupun militer.
      Tujuan diplomasi kebudayaan adalah untuk mempengaruhi pendapat umum (masyarakat negara lain) guna mendukung suatu kebijakan politik luar negeri tertentu. Pada dasarnya sasaran diplomasi kebudayaan adalah masyarakat dari suatu negara tertentu maupun internasional yang nantinya akan berpengaruh terhadapa kebijakan suatu negara sasaran. Sarana yang digunakan untuk menyampaikan misi diplomasi kebudayaan ini adalah dengan menggunakan segala macam alat komunikasi, baik media elektronik maupun cetak yang dianggap dapat menyampaikan isi atau misi politik luar negeri tertentu, termasuk di dalamnya sarana diplomatik maupun militer.
    Isi atau materi diplomasi kebudayaan adalah segala hal yang secara makro maupun mikro dianggap sebagai pendayagunaan aspek budaya (dalam politik luar negeri), diplomasi kebudayaan biasanya menggunakan bidang kesenian, pariwisata, olahraga, tradisi, teknologi sampai dengan pertukaran ahli untuk menyampaikan misi diplomasi kebudayaaan tersebut. Tentunya kita harus mengetahui karakter negara yang menjadi sasaran diplomasi kebudayaan tersebut sebelum memutuskan macam bidang apa yang nantinya akan digunakan. Perbedaan diplomasi kebudayaan dan diplomasi non-kebudayaan adalah dengan melihat tindakan dan ciri pelaku diplomasi serta sasaran dari diplomasi tersebut dan didasarkan pada ciri-ciri pola komuniksinya dan bukan padabidang operasi atau bidang-bidang disiplin yang dilibatkannya. sebagai contoh; walaupun bidang militer secara konvensional tidak termasuk sebagai diplomasi, tetapi pemanfaatan kegiatan militer untuk kepentingan propaganda atau terorisme misalnya, dapat saja digolongkan sebagai salah satu jeniss diplomasi kebudayaa. Karena jelas bahwa saaran dari propaganda atau terorisme tersebut adalah masyarakat luas.
    Pada awalnya diplomasi  kebudaayaan ini secara resmi dijalankan oleh aktor pemerintah, namun seiring berjalankan waktu aktor non pemerintah dapat berperan serta dalam melancarkan diplomasi kebudayaan tersebut. Hari ini pola hubungan diplomasi kebudayaan antarbangsa bisa terjadi antara pemerintah-pemerintah, pemerintah-swasta, swasta-swasta, pribadi-pribadi, pemerintah-pribadi, dan seterusnya dengan sasaran utamanya adalah masyarakat suatu negara-bangsa (dan bukan emata-mata langsung terhadap pemerintahnya).
    Telah dibahas diatas sebelumnya tentang diplomasi kebudayaan secara makro, diplomasi kebudayaan merupakan suatu usaha sebuah negara dalam upaya memperjuangkan kepentingan nasionalnya melalui dimensi kebudayaan, termasuk didalamnya pemanfaatan bidang-bidang ideologi, teknologi, politik, ekonomi militer, sosial kesenian dan lain-lain dalam percaturan masyarakat internasional. Dari segi pola komunikasi yang seperti itu dapat dikemukakan beberapa jenis konsep diplomasi kebudayaan menurut tujuan, bentuk dan sarananya. 

 Tabel


   SITUASI
       BENTUK
       TUJUAN
       SARANA

 
   Damai
 -Eksibisi
 -Kompetisi
 -Pertukaran Missi
 -Negosiasi
 -Konferensi
-Pengakuan
-Hegemoni
-Persahabatan
-Penyesuaian


 -Pariwisata
 -Olahraga
 -Pendidikan
 -Perdagangan
 -Kesenian




   Krisis
 -Propaganda
 -Pertukaran Missi
 -Negosiasi
-Persuasi
-Penyesuaian
-Pengakuan
-Ancaman



 -Politik
 -Mass Media
 -Diplomatik
 -Missi Tingkat
  Tinggi
 -Opini Publik




  Konflik
 -Teror
 -Penetrasi
 -Pertukaran Missi
 -Boikot
 -Negosiasi
 -Ancaman
 -Subversi
 -Persuasi
 -Pengakuan




 -Opini Publik
 -Perdagangan
 -Para Militer
 -Forum Resmi
 -Pihak Ketiga






  Perang
 -Kompetisi
 -Terror
 -Penetrasi
 -Propaganda
 -Embargo
 -Boikot
 -Blokade
 -Dominasi
 -Hegemoni
 -Ancaman
 -Subversi
 -Pengakuan
 -penaklukan


 - Militer
 -Para Militer    
 -Penyelundupan
 -Opini Publik
 -Perdagangan
 -Supply Barang  
 -Konsumtif (termasuk
  senjata)



Referensi:
Tulus Warsito dan Wahyuni Kartikasari, Diplomasi Kebudayaan, Konsep dan relevansi bagi negara berkembang; studi kasus Indonesia, Yogyakarta; Ombak, 2007