Diplomasi Kebudayaan
Secara konvensional, pengertian diplomasi adalah sebagai usaha suatu negara-bangsa untuk memperjuangkan kepentingan nasionalnya di kalangan masyarakat internasional. Dalam hal ini diplomasi diartikan tidak sekedar sebagai perundingan, melainkan semua upaya hubungan luar negeri.
Kebudayaan secara makro atau dalam pngertian umum berarti segala hasil upaya budi daya manusia terhadap lingkungan. Ada juga yang secara makro mengartikan kebudayaan sebagai keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusiadalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar. Jika pengertian makro dari kebudayaan ini harus dikaitkan dengan diplomasi, maka diplomasi kebudayaan sesungguhnya adalah merupakan satu-satunya jenis diplomasi yang dimiliki manusia. Diplomasi kebudayaan mikro, yakni yang biasanya termanifestasikan dalam pendidikan, kesenian, ilmu pengetahuan, dan olahraga. Lebih mikro lagi, dan ini yang justru lebih sering dianggap sebagai 'konvensi' adalah kebudayaan yang menitikberatkan pada pemanfaatan 'kesenian'.
Dengan demikian diplomasi kebudayaan dapat diartikan sebagai usaha suatu negara untuk memperjuangkan kepentingan nasionalnya melalui dimensi kebudayaan, baik secara mikro seperti pendidikan, ilmu pengetahuan, olahraga, dan kesenian ataupun secara makro sesuai dengan ciri-ciri khas yang utama, misalnya propaganda dan lain-lain, yang dalam pengertian konvensionalnya bukan politik, ekonomi ataupun militer.
Tujuan diplomasi kebudayaan adalah untuk mempengaruhi pendapat umum (masyarakat negara lain) guna mendukung suatu kebijakan politik luar negeri tertentu. Pada dasarnya sasaran diplomasi kebudayaan adalah masyarakat dari suatu negara tertentu maupun internasional yang nantinya akan berpengaruh terhadapa kebijakan suatu negara sasaran. Sarana yang digunakan untuk menyampaikan misi diplomasi kebudayaan ini adalah dengan menggunakan segala macam alat komunikasi, baik media elektronik maupun cetak yang dianggap dapat menyampaikan isi atau misi politik luar negeri tertentu, termasuk di dalamnya sarana diplomatik maupun militer.
Isi atau materi diplomasi kebudayaan adalah segala hal yang secara makro maupun mikro dianggap sebagai pendayagunaan aspek budaya (dalam politik luar negeri), diplomasi kebudayaan biasanya menggunakan bidang kesenian, pariwisata, olahraga, tradisi, teknologi sampai dengan pertukaran ahli untuk menyampaikan misi diplomasi kebudayaaan tersebut. Tentunya kita harus mengetahui karakter negara yang menjadi sasaran diplomasi kebudayaan tersebut sebelum memutuskan macam bidang apa yang nantinya akan digunakan. Perbedaan diplomasi kebudayaan dan diplomasi non-kebudayaan adalah dengan melihat tindakan dan ciri pelaku diplomasi serta sasaran dari diplomasi tersebut dan didasarkan pada ciri-ciri pola komuniksinya dan bukan padabidang operasi atau bidang-bidang disiplin yang dilibatkannya. sebagai contoh; walaupun bidang militer secara konvensional tidak termasuk sebagai diplomasi, tetapi pemanfaatan kegiatan militer untuk kepentingan propaganda atau terorisme misalnya, dapat saja digolongkan sebagai salah satu jeniss diplomasi kebudayaa. Karena jelas bahwa saaran dari propaganda atau terorisme tersebut adalah masyarakat luas.
Pada awalnya diplomasi kebudaayaan ini secara resmi dijalankan oleh aktor pemerintah, namun seiring berjalankan waktu aktor non pemerintah dapat berperan serta dalam melancarkan diplomasi kebudayaan tersebut. Hari ini pola hubungan diplomasi kebudayaan antarbangsa bisa terjadi antara pemerintah-pemerintah, pemerintah-swasta, swasta-swasta, pribadi-pribadi, pemerintah-pribadi, dan seterusnya dengan sasaran utamanya adalah masyarakat suatu negara-bangsa (dan bukan emata-mata langsung terhadap pemerintahnya).
Telah dibahas diatas sebelumnya tentang diplomasi kebudayaan secara makro, diplomasi kebudayaan merupakan suatu usaha sebuah negara dalam upaya memperjuangkan kepentingan nasionalnya melalui dimensi kebudayaan, termasuk didalamnya pemanfaatan bidang-bidang ideologi, teknologi, politik, ekonomi militer, sosial kesenian dan lain-lain dalam percaturan masyarakat internasional. Dari segi pola komunikasi yang seperti itu dapat dikemukakan beberapa jenis konsep diplomasi kebudayaan menurut tujuan, bentuk dan sarananya.
Kebudayaan secara makro atau dalam pngertian umum berarti segala hasil upaya budi daya manusia terhadap lingkungan. Ada juga yang secara makro mengartikan kebudayaan sebagai keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusiadalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar. Jika pengertian makro dari kebudayaan ini harus dikaitkan dengan diplomasi, maka diplomasi kebudayaan sesungguhnya adalah merupakan satu-satunya jenis diplomasi yang dimiliki manusia. Diplomasi kebudayaan mikro, yakni yang biasanya termanifestasikan dalam pendidikan, kesenian, ilmu pengetahuan, dan olahraga. Lebih mikro lagi, dan ini yang justru lebih sering dianggap sebagai 'konvensi' adalah kebudayaan yang menitikberatkan pada pemanfaatan 'kesenian'.
Dengan demikian diplomasi kebudayaan dapat diartikan sebagai usaha suatu negara untuk memperjuangkan kepentingan nasionalnya melalui dimensi kebudayaan, baik secara mikro seperti pendidikan, ilmu pengetahuan, olahraga, dan kesenian ataupun secara makro sesuai dengan ciri-ciri khas yang utama, misalnya propaganda dan lain-lain, yang dalam pengertian konvensionalnya bukan politik, ekonomi ataupun militer.
Tujuan diplomasi kebudayaan adalah untuk mempengaruhi pendapat umum (masyarakat negara lain) guna mendukung suatu kebijakan politik luar negeri tertentu. Pada dasarnya sasaran diplomasi kebudayaan adalah masyarakat dari suatu negara tertentu maupun internasional yang nantinya akan berpengaruh terhadapa kebijakan suatu negara sasaran. Sarana yang digunakan untuk menyampaikan misi diplomasi kebudayaan ini adalah dengan menggunakan segala macam alat komunikasi, baik media elektronik maupun cetak yang dianggap dapat menyampaikan isi atau misi politik luar negeri tertentu, termasuk di dalamnya sarana diplomatik maupun militer.
Isi atau materi diplomasi kebudayaan adalah segala hal yang secara makro maupun mikro dianggap sebagai pendayagunaan aspek budaya (dalam politik luar negeri), diplomasi kebudayaan biasanya menggunakan bidang kesenian, pariwisata, olahraga, tradisi, teknologi sampai dengan pertukaran ahli untuk menyampaikan misi diplomasi kebudayaaan tersebut. Tentunya kita harus mengetahui karakter negara yang menjadi sasaran diplomasi kebudayaan tersebut sebelum memutuskan macam bidang apa yang nantinya akan digunakan. Perbedaan diplomasi kebudayaan dan diplomasi non-kebudayaan adalah dengan melihat tindakan dan ciri pelaku diplomasi serta sasaran dari diplomasi tersebut dan didasarkan pada ciri-ciri pola komuniksinya dan bukan padabidang operasi atau bidang-bidang disiplin yang dilibatkannya. sebagai contoh; walaupun bidang militer secara konvensional tidak termasuk sebagai diplomasi, tetapi pemanfaatan kegiatan militer untuk kepentingan propaganda atau terorisme misalnya, dapat saja digolongkan sebagai salah satu jeniss diplomasi kebudayaa. Karena jelas bahwa saaran dari propaganda atau terorisme tersebut adalah masyarakat luas.
Pada awalnya diplomasi kebudaayaan ini secara resmi dijalankan oleh aktor pemerintah, namun seiring berjalankan waktu aktor non pemerintah dapat berperan serta dalam melancarkan diplomasi kebudayaan tersebut. Hari ini pola hubungan diplomasi kebudayaan antarbangsa bisa terjadi antara pemerintah-pemerintah, pemerintah-swasta, swasta-swasta, pribadi-pribadi, pemerintah-pribadi, dan seterusnya dengan sasaran utamanya adalah masyarakat suatu negara-bangsa (dan bukan emata-mata langsung terhadap pemerintahnya).
Telah dibahas diatas sebelumnya tentang diplomasi kebudayaan secara makro, diplomasi kebudayaan merupakan suatu usaha sebuah negara dalam upaya memperjuangkan kepentingan nasionalnya melalui dimensi kebudayaan, termasuk didalamnya pemanfaatan bidang-bidang ideologi, teknologi, politik, ekonomi militer, sosial kesenian dan lain-lain dalam percaturan masyarakat internasional. Dari segi pola komunikasi yang seperti itu dapat dikemukakan beberapa jenis konsep diplomasi kebudayaan menurut tujuan, bentuk dan sarananya.
Tabel
SITUASI
|
BENTUK
|
TUJUAN
|
SARANA
|
Damai
|
-Eksibisi
-Kompetisi
-Pertukaran Missi
-Negosiasi
-Konferensi
|
-Pengakuan
-Hegemoni
-Persahabatan
-Penyesuaian
|
-Pariwisata
-Olahraga
-Pendidikan
-Perdagangan
-Kesenian
|
Krisis
|
-Propaganda
-Pertukaran Missi
-Negosiasi
|
-Persuasi
-Penyesuaian
-Pengakuan
-Ancaman
|
-Politik
-Mass Media
-Diplomatik
-Missi Tingkat
Tinggi
-Opini Publik
|
Konflik
|
-Teror
-Penetrasi
-Pertukaran Missi
-Boikot
-Negosiasi
|
-Ancaman
-Subversi
-Persuasi
-Pengakuan
|
-Opini Publik
-Perdagangan
-Para Militer
-Forum Resmi
-Pihak Ketiga
|
Perang
|
-Kompetisi
-Terror
-Penetrasi
-Propaganda
-Embargo
-Boikot
-Blokade
|
-Dominasi
-Hegemoni
-Ancaman
-Subversi
-Pengakuan
-penaklukan
|
- Militer
-Para Militer
-Penyelundupan
-Opini Publik
-Perdagangan
-Supply Barang
-Konsumtif (termasuk
senjata)
|
Referensi:
Tulus Warsito dan Wahyuni Kartikasari, Diplomasi Kebudayaan, Konsep dan relevansi bagi negara berkembang; studi kasus Indonesia, Yogyakarta; Ombak, 2007
Tidak ada komentar:
Posting Komentar