Minggu, 10 Januari 2016

HI- Islam and Eropa


Islam and International World


Pengaruh Xenofobia Terhadap Perkembangan Islam di Perancis


Perancis merupakan salah satu negara di Eropa yang beberapa pekan terkahir ini menjadi sorotan dan perbincangan dunia internasional. Aksi terror yang terjadi pada tahun 2015 dan penyerangan terhadap kantor majalah Charlie Hebdo telah ramai diperbincangkan. Tentunya isu yang terjadi di Perancis ini seringkali dikaitkan dengan Islam sehingga memicu rasa ketidaksukaan masyarakat terhadap warga muslim yang bertempat tinggal di negara sekuler tersebut. Sejarah mengatakan bahwa Islam sempat Berjaya di Eropa setelah penakhlukkan beberapa daratan di negara-negara Eropa. Pada tahun 91-94 H, panglima Musa bin Nushair dan Thariq bin Ziyad berhasil menakhlukkan Andalusia sampai ke Asturies hingga ke Teluk Biscay, pantai Prancis.
Imigran mempunyai peran yang sangat besar dalam penyebaran Islam di negara demokrasi tersebut. Islam berkembang sangat pesat dan perlahan-lahan masyarakat yang mayoritasnya memeluk agama Kristen dan katolik ini perlahan-lahan menerima kedatangan agama baru di benua biru ini terutama pada abad ke-20. Para imigran dan buruh berasal dari negara-negara jajahan perancis seperti Aljazair, Maroko dan Tunisia datang dan tersebar ke berbagai wilayah di Eropa. Survei dari sebuah tabloid Perancis pada tahun 2006 menunjukan bahwa jumlah muallaf yang berasal dari warga asli Perancis mencapai 60.000 orang. Atas hasil survey tersebut, maka Islam menjadikan agama terbesar  kedua di Prancis sehingga menjadi perhatian dan sorotan dari pemerintah maupun warga Prancis.  
Islam telah memberi pengaruh terhadap kehidupan social warga Perancis dan mulai mendirikan organisasi dan beberapa masjid-masjid di Perancis sebagai tempat ibadah dan memperdalam ajaran agama Islam.  Perkembangan Islam yang begitu pesat telah menimbulkan rasa khawatir bagi warga Prancis terutama pemerintah terhadap organisasi organisasi Islam, sehingga adanya pelarangan penyebaran agama terutama Islam yang akan menimbulkan pengkotak-otakan masyarakat ke dalam kelompok-kelompok yang nantinya akan menyebabkan disintegrasi. Ketakutan pemerintah ini menimbulkan dipersempitnya pintu keimigrasian bagi imigran yang berasal dari arab khususnya bagi yang beragama Islam.
Sikap pemerintah Perancis ini jelas menunjukkan  xenophobia terhadap muslim, terutama setelah adanya isu terror yang meruntuhkan gedung WTC Amerika Serikat yang sempat menciptakan Islamophobia yang berlebihan di seluruh dunia. Xenofobia merupakan ketidaksukaan atau ketakutan terhadap orang-orang dari negara lain atau yang dianggap asing. Bahasa ini berasal dari bahasa Yunani, “xenos “yang artinya “orang asing” dan “phobos” artinya “ketakutan”.  Pasca peristiwa terror Paris tersebut, banyak bermunculan gerakan anti-Muslim yang melebihi sepanjang 2014. Le Pen, pemimpin sayap kanan di Perancis merupakan salah satu orang yang menentang imigrasi dan mengatakan bahwa Islam harus diberangus dan semua masjid ditutup pasca serangan yang menewaskan 129 orang tersebut. Menurutnya kedatangan hampir sejuta pengungsi Muslim dapat mengancam persatuan dan kedaulatan negara-negara Eropa.  Namun bertolak belakang dengan pernyataan Manuel valls “Islam masih menjadi kesalahpahaman, prasangka dan ditolak oleh warga” kata perdana menteri Perancis.
Muslim Perancis telah membentuk kawasan Muslim dan menerapkan syariah agama Islam terhadap kehidupan mereka, namun beberapa pihak melarang dan tidak dapat menerima penerapan syariat Islam sekalipun di wilayah kaum muslim tersebut. Apa yang dilakukan sekelompok orang tersebut terlalu berlebihan dan tidak dapat menghargai kebebasan beragama di negara yang menjunjung tinggi nilai demokrasi ini.  Menurut laporan harian Perancis, beberapa warga anti-muslim telah melakukan aksi coret-coret berbentuk salib didinding salah satu masjid di Paris. Ditengah kericuhan anti-muslim, banyak warga Perancis yang menunjukkan dukungan terhadap muslim di Perancis maupun muslim diseluruh dunia melalui akun media social.
 Ketakutan pemerintah Perancis tentang isu dan terror yang terjadi di Perancis telah  melahirkan konferensi yang bertujuan untuk meyakinkan bahwa Islam tidak ada hubungannya dengan ekstremisme. Pertemuan tersebut akhirnya dapat dihadiri oleh 120 pemimpin komunitas Muslim dan para pejabat dari pemerintahan.  Pemimpin dari Perancis Muslim Council (CFCM) dan rektor masjid agung meminta dukungan pemerintah untuk memberi pelatihan bagi imam untuk menghindari penyebaran pesan-pesan ekstrimis. Selain itu  akan diselenggarakan dialog antara Muslim dan pemerintah Perancis sekali dalam dua tahun untuk meningkatkan komunikasi dan untuk menunjukkan bahwa Islam merupakan bagian dari  masyarakat Perancis. Tentunya keadaan yang terjadi di Perancis menggambarkan bahwa pemerintahan Perancis belum mampu untuk menangani kaum yang tergolong minoritas tersebut dan sikap pemerintah telah menunjukkan ketakutan terhadap ideologi Islam yang telah tersebar dan melekat dalam keseharian warga muslim yang tentunya lambat laun  akan mempengaruhi warga Prancis yang menganut paham sekularisme.

Referensi
http://www.eramuslim.com/dakwah-mancanegara/islam-di-negeri-menara-eiffel.htm

Lilis Ayu R.
201110360311064
Class B

Tidak ada komentar:

Posting Komentar