Selasa, 12 Januari 2016

HI- Islam in Southeast Asia, Philipina Conflict



Islam and International World 


Sejarah Konflik Filipina Selatan  Dalam Menuntut Hak Otonom Bagi Masyarakat Muslim Moro


Sejarah mengatakan bahwa, sekitar tahun 1380M  agama Islam merupakan agama mayoritas, terutama di wilayah bagian Filipina Selatan. Islam bukanlah agama pertama di negara Filipina, namun pada saat itu Islam datang kedalam peradaban dan masyarakat yang telah memiliki budaya terutama di Filipina bagian selatan, Mindanao dan Sulu. Masuknya Islam di negara ini berawal dari kedatangan seorang tabib dan ulama Arab yang bernama Karimul Makhdum serta Raja Baguinda yang berdakwah menyebarkan agama ini. Islam telah datang sebelum Spanyol menjajah Filipina pada 16 Maret 1521. Setelah keberhasilan Spanyol menakhlukkan Filipina Utara maka Spanyol berencana untuk menakhlukkan Filipina Selatan yang dipimpin kesultanan Islam pada masa itu, namun menakhlukkan Filipina Selatan tidak semudah menakhlukkan Filipina Utara. Bangsa Moro yang mendiami Filipina selatan ini ternyata lebih gigih dalam mempertahankan wilayah mereka. 
 Pada 1898 M, melalui Traktat Paris Spanyol secara resmi memberikan  Filipina kepada Amerika Serikat. Untuk menarik simpati, Amerika berjanji akan memberikan kebebasan beragama, dan kebebasan mengungkapkan pendapat dan memberikan pendidikan  kepada bangsa Moro yang kemudian dibuktikan dengan penandatanganan Traktat Bates pada 1898 M. Tentunya sikap Amerika Serikat merupakan kedok untuk memenuhi kepentingan nasionalnya. Pada 1903 Di bawah pemerintahan Amerika Serikat Mindanao dan Sulu yang mayoritasnya beragama islam disatukan menjadi wilayah provinsi Moroland dengan alasan untuk menyatukan rakyat Mindanao dan Sulu agar dapat bermasyarakat.  Dalam praktik penjajahannya Amerika menggunakan bujukan dan pendidikan untuk menghentikan perlawanan bangsa Moro. Dalam hal pendidkannya Amerika memasukkan unsur dan norma-norma Barat untuk mengasimilasi Bangsa Moro pada kebiasaan orang-orang Kristen.
 Amerika Serikat pada akhirnya merasa bahwa Filipina tidak banyak memberi keuntungan bagi negara mereka karena banyaknya biaya yang harus dikeluarkan dalam membenahi wilayah dan kericuhan yang terjadi, maka pada masa pra-kemerdekaan yang ditandatangani dengan peralihan kekuasaan dari penjajahan Amerika Serikat ke pemerintahan Filipina yang bermayoritaskan Kristen memberlakukan hukum tanah, bahwa setiap tuan tanah harus mendaftarkan kepemilikan tanah secara resmi kepada pemerintah Filipina. Banyak dari Filipina Selatan yang enggan untuk berurusan dengan pemerintahan Filipina dan akhirnya ini menjadi alasan bagi pemerintahan Filipina untuk menyita tanah milik masyarakat Filipina Selatan sehingga pemerintah dapat melakukan program imigrasi Filipina Utara ke Filipina Selatan yang bertujuan untuk berbaur, mengekplorasi wilayah Filipina Selatan yang hidup secara tradisional serta menjalankan politik genocide pada awal decade 1970an.
 Para Imigran asal Filipina utara  yang telah hidup jauh modern dan berpendidikan dibanding dengan masyarakat selatan yang masih bersifat tradisional akhirnya lebih pandai dalam mengelola tanah dan memiliki ekonomi yang jauh lebih baik dari pada penduduk setempat. Banyak dari warga Selatan yang akhirnya bekerja dan menjadi buruh untuk para imigran. Menyadari hal tersebut warga pribumi setempat tidak dapat menerima dan akhirnya timbulah konflik tanah antara warga pribumi dan para imigran yang kehidupannya jauh lebih baik dan merembet kepada konflik agama.  Keadaan ini juga telah memicu protes yang keras kepada pemerintahan Filipina terlebih lagi pemegang kekuasaan pemerintahan berada di Filipina Utara yang mayoritasnya beraga Katolik membuat warga Selatan tidak patuh dan lebih menghormati datuk setempat.
 Sulitnya warga Selatan bermasyarakat dengan warga Utara dan juga pemerintah adalah karena; 1) Bangsa Moro sulit menghargai undang-undang Nasional, karena undang-undang tersebut berasal dari barat dan Katolik. 2) Sistem sekolah yang menetapkan kurikulum yang sama bagi setiap anak Filipina disemua daerah tanpa membedakan agama dan kultur dan hal ini yang membuat bangsa Moro enggan untuk belajar disekolah. 3) Bangsa Moro masih trauma dan tidak suka dengan program perpindahan penduduk yang dilakukan oleh pemerintah Filipina ke wilayah Mindanao yang akhirnya merubah posisi mereka sebagai mayoritas menjadi minoritas di tanah leluhur bangsa Moro. Alasan tersebut menimbulkan rasa kekecewaan yang mendalam  bagi bangsa Moro yang akhirnya dengan alasan tersebut melahirkan gerakan perlawan baru dari bangsa moro seperti Muslim Independent Movement (MIM) pada tahun 1968, Moro Liberation Front (MLF) pada tahun 1971 yang pada perkembangannya terpecah menjadi Moro Natioan Liberation Front (MNLF) yang dipimpin oleh Nurulhaj M. dan Moro Islamic Liberation Front (MILF) yang dipimpin oleh Salamat H.
 Karena tidak mendapat respon yang baik dari pemerintah Filipina akhirnya Pemberontakan dan perlawanan bangsa Moro terus berlangsung dari pasca kemerdekaan Filipina pada 1946 sampai saat ini, bahkan bangsa Moro ditanah leluhurnya mendapat tindak diskriminasi dan marjinalisasi; kemiskinan tingkat pendidikan rendah dan lapangan pekerjaan yang sulit bagi bangsa Moro. Usaha para gerakan perlawanan bangsa Moropun tak sia-sia karena dikabarkan telah mendapat dukungan dari dunia Internasional salah satunya OKI dan  mendapat pemasukan dana dari Libya. Konflik Filipina Selatan dan pemerintahan Filipina akhirnya menjadi konflik separatis yang menimbulkan korban dari kedua belah pihak dan rakyat sipil. Dalam hal ini pemerintah Filipina memiliki dua strategi besar yaitu strategi konfrontasi dan politik berupa perjanjian damai maupun referendum untuk meredamkan pemberontakan bangsa Moro tersebut.
 Saat ini muslim Filipina hanya menjadi kaum minoritas di daerah The Autonomous Region in Muslim Mindanao (ARMM) yang dibentuk oleh pemerintah pada 1989 sebagai hasil kesepakatan  damai antara pemerintah dan MNLF, tentunya sangat jauh berbeda jika dibandingkan dengan sejarah Filipina sebelum masa penjajahan Spanyol dan Amerika Serikat. Hingga saat ini gerakan perlawanan bangsa Moro masih berjuang untuk kemerdekaan wilayah ARMM dan masih dalam perundingan antara presiden Aquino untuk otoritas landasan Hukum Islam di bagian Filipina Selatan tersebut.

 “Kami telah mencapai langkah selanjutnya menuju Mindanao yang lebih damai dan progresif,” kata Aquino setelah memberikan usulan undang-undang baru itu kepada para pemimpin kongres.
Masyarakat Internasional tentunya berharap konflik tersebut dapat terselesaikan secara damai karena akan mengganggu stabilitas wilayah Asia Tenggara dan dapat melahirkan kelompok-kelompok ekstrim yang dapat mengancam keamanan Asia.


Referensi
Makalah Metodologi Studi Islam: Sejarah islam di Filipina, https://www.academia.edu/9397096/Makalah_Metodologi_Studi_Islam_Sejarah_Islam_di_Filipina

Islampos: Presiden Filipina desak wilayah otonom Muslim, https://www.islampos.com/presiden-filipina-desak-wilayah-otonomi-muslim-172961/
Lilis Ayu Rimbawati
201110360311064
Class B



Tidak ada komentar:

Posting Komentar